Rintik Durian Pulau Bangka
Pulau Bangka, 4 Januari 2019 · oleh Sigit Purwanto
4 Januari 2019. Pulau bangka. Hari seperti enggan diraupi hujan. Dibuka kabut dilepaskannya sinar matahari. Hujan hanya rintik kecil lalu pergi.
Sedih
Bersama rintik kawan kami ikut pergi
Meninggalkan kenang di kaki bukit Manumbing
Bias Bersama batu
Bersama daun
Bersama pohon durian yang sangat beliau banggakan.
Lara
Secepat itu kawan pergi
Bersama rintik
Bang Hendra anda orang baik.
Saya bertemu beliau pertama kali di pesawat yang mengantar kami ke pulau Bangka. Pria gempal santun mengucap salam dan berjanji mengajak kami berburu durian. Beliau adalah Hendra Kurniadi ketua DPRD Bangka Barat orang dibalik kesuksesan mashurnya durian bangka.
Pak Ketu kami memanggilnya. Salam mengakhiri perjumpaan kami. Kami berpisah untuk pertama kali
Kunjungan ke Bangka adalah menu wajib untuk mencari durian terbaik di indonesia. Bangka pulau kecil namun gaung kenikmatan durian sudah meletup tinggi di nusantara. Letupannya tinggi meninggalkan daerah lain sesama penghasil durian karena di indonesia hanya pulau Bangka yang sukses mengembangkan atau mengebunkan durian lokal.
Dari kota Pangkalpinang, mobil dipacu ke ujung barat pulau bangka. Muntok. Jalan kecil.lurus halus jadi teman perjalan kami selama kurang lebih 3 jam. Muntok sepertinya sedang berpesta, durian sepanjang jalan berderet dijajakan. Ketakutan saya ditinggal musim durian hilang sudah. Saya memang diwanti wanti cepat datang karena durian sudah diujung musim. bersama 9 penggila durian dari berbagai daerah yang tergabung di Komunitas Durian Traveler Indonesia kami sepakat datang dan memenuhi undangan.
Hari pertama kami hinggap di simpang Teritip desa Pelangas menyambangi kebun milik haji Ulung. Kebun beliau letaknya jauh dari jalan raya. Dengan mobil milik kerabat beliau pak Sukrat kami membelah jalan kebun karet . Sisa hujan tadi malam menambah licin jalan tanah. Dibalik rungkudan pohon karet ratusan gubuk penunggu durian mulai terlihat. Asap masih membumbung di perapian membagi cerita tentang nikmatnya kopi dan sendunya malam di gubuk durian.
Gubuk durian H Ulung cukup mewah, bukan dari tumpukan kayu basah dan terpal tapi sudah beratap seng dengan kayu besar menyerupai rumah panggung. Anugrah terindah bukan gubuknya tapi puluhan pohon durian yang bershaf tinggi bermunajat ke langit. Di setiap rantingnya ratusan durian ranum menunggu angin untuk membawanya turun.
Gedebug..
Sambutan durian jatuh. Suara berdentum kencang menghajar tanah. Riang panik bercampur aduk membuat kami berlarian ke gubuk pak Ulung.
Haji Ulung tersenyum sambil menahan tawa terkekeh melihat kami berlarian seperti bebek di parit basah. Sepertinya dia sudah menunggu kami lama. Dikeluarkannya 7 durian di bilik penyimpanannya
“Durian ini warisan keluarga. Tapi saya juga mulai menanam diatas sana, usia 15 tahunan sudah mulai berbuah kata beliau.
Lahan beliau seperti permadani diatas batu. Luasnya 5 hektar Tinggi menjuntai lalu rebah lurus dengan batuan besar pendampingnya.
Sorak rungrai, riuh seperti anak tk di bagi permen langsung merebak begitu satu satu persatu durian di buka. Berbagai bentuk dan warna disajikan. Ada yang bulat hingga panjang mirip kapal selam. Dagingnya pun beraneka warna dari putih tulang hingga kuning keemasan.
“ Santai santai” begitu teriakan pak Zoel dari teman DT dari Semarang yang takut tidak kebagian foto karena keburu di gragas teman lainya.
Sedikit foto lalu kami mulai mencicipi durian.
Lengket, krimi, gurih, manis dengan sentuhan pait yang berbeda beda membuat kami semua tenggelam di nikmatnya durian milik H Ulung.
“Edan nonjok- nonjok begitu lagi.agi pak zoel teriak tak malu malu
Saya terpesona dengan durian Jantung. Bentuknya memang mirip jantung pisang. Panjang menyempit di ujungnya. Kulitnya cukup tebal tapi tekstur dagingnya yang menurutnya sulit cari tandingannya. Lembut seperti Mentega meleleh seperti madu. Saya pun agak berhati -hati mengangkat dagingnya karena Begitu dagingnya diangkat pelan dia akan meleleh pelan laiknya madu. Lembut sekali memanjakan lidah. Tak berserat apalagi berpati. Manis berlemak dengan pahit sedikit menggenang di lidah. Lembut sekali membuai lidah bermain di perosotan lalu dilepas girang keenakan.
Lepas dari durian jantung saya terkagum dengan durian dengan kulit kuning tanpa nama. Daging kuning biasa tapi rasanya membuat lidah ditarik kelu. Inilah adalah puncak rasa durian. Saat lidah anda terdiam pasrah menikmati manis pait legit lengket lalu dijerumuskan ke lurung kebas yang dalam. Orgasme durian mungkin ini istilah terbaik menggambarkan dalamnya rasa durian ini.

“Ini tanpa nama pohonya di bawah situ, harganya tak ada yang mahal. Hanya 15 ribu sampai 30 ribu saja” Kata H. UluNg santai sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.
Agak kaget, girang tak kepalang sebenarnya.
padahal di pulau Penang saya harus mengeluarkan paling murah 300 ribu untuk menikmati durian kebas seperti ini. Karena rasa kebas itu langka hanya ada di pohon yang usianya diatas 30 tahun. Konon diusia itu pohon sudah tak ribet mencari makanan untuk menompak pertumbuhan, semua daya dan energi sudah difokuskan ke buah bukan lagi menambah cabang dan daun.

Hujan memang tak jadi datang siang ini. Rintiknya pun enggan singgah. Hari sudah mengunduh awan dan menitipkannya untuk esok. Janji bertemu dengan pak Ketu nanti malam menyudahi petualangan kami di di kebun H Ulung.
Salam untuk rintik Pak Ketu
Karena di rintik kami selalu mengingat Jasamu Kawan.
Jakarta pagi ini
