Berburu Musang King di Jawa Tengah (Part II)
oleh Sigit Purwanto
Brongkol Oh Brongkol
Sayang sekali saya gagal menikmati si Musangking Di Kemrajen, sebuah kegagalan yang sudah saya perkirakan.
Selepas magrib saya bergeser dari Kemrajen, ini tujuan saya paling berat, Brongkol, di lereng gunung Kelir ada Durian Musangking berbuah Infonya A1 ndak mungkin meleset. Tapi untuk bisa mencicipi, itu hal lain, itu A21 ndak bisa diprediksi.
Beruntung sejak cangkruan di dunia durian saya bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan sesama pengila durian selain menambah teman, gara-gara durian saya bisa ketemu lagi dengan teman yang sudah puluhan tahun ndak ketemu. Alias lost contak. Aswin dan Faisal yang saya hubungi ini misalnya, mereka adalah teman lama di sebuah pesantren besar di Ponorogo. Aswin ngakunya petani kecil di kalimantan, kalau saya tanya sekarang lagi sibuk apa?.
"Tani apa" ?.. kata saya menjurus"
"Yo duren"
"Walah apik iku, tanam piro?"
"Yoo cuma 20 hektar"
"Ahh Kittun" kata saya
Diapun hanya terseyum.
"Musangking ono"?.
"Semua ada mbah" katanya tanpa menjelaskan secara rinci jenis durianya
Penting sekali saya ajak mereka, selain kangen -kangenan juga jadi "guiding tester " menikmati durian Musaking, lah iyo saya cuma pernah makan sekali dan itu beku. Nek mereka belum pernah, yo kebangetan. Lah ngapain tanam durian sampe 20 hektar nek makan Musangking aja ndak pernah.yo toh..!?.
Setelah istirahat sebentar, tengah malam saya melanjutkan perjalanan. Bus yang saya tumpangi penuh sesak. Jangankan duduk berdiri saja dah mpet-mpetan..ya salam bakalan jadi pindang pepes saya sampe Ambarawa. Jam 4 pagi saya sampe dikota Ambarawa, setelah bersih bersih dan numpang tiduran di depan Alfamart, perjalan ke Brongkol saya lanjutkan dengan menaiki ojeg.
Pemandangan di daerah Ambarawa sangat indah. Gugusan gunung bertautan, kabut putih pagi seperti gincu menambah molek deretan gunung.
"Aswin, aku dah sampe Brongkol yo,
Aku tunggu di warung durian pinggir ndalan".
Pesan sudah terkirim Sambil nunggu Aswin dateng apa salahnya sarapan durian, brongkol terkenal durian lokalnya enak-enak. Sayapun dibikin kaget kaget lihat durian brongkol yang dijajakan, ukurannya seragam, besar besar saya pastikan berat terendahnya diatas 2 kg.
"Ini berapaan bu"? kata saya
"Yang mana?" Kata ibu penjual
"Yang ini" kata saya sambil menunjuk durian paling kecil.
"Ini 150.000 kalau yang ini 250.000" sambil menunjuk durian cukup besar.
Sayapun semakin terperanjat bengong mendengar harganya sambil bergumam "cuk mahal men".
Perhatian ibu teralihkan ketika berdatangan pembeli lain, akhirnya saya cuma duduk sambil melihat, mendengarkan pertandingan seru tawar menawar harga durian.
Selang beberapa menit datanglah 2 orang pembeli, dari pakain saya pastikan rumahnya tak jauh dari sini, "Yu......ada?.. katanya.
"Ndak ada"
"Siapa yang dagang?"
"Saya bu?"
"Oh iyo". "Iki duren ndi Yu?..
" Anu niki duren Magelang...
"Oh dudu Brongkol toh"!!
"Njih sanes"
"Owalah yo wis ra sido"
Katanya sambil berlalu.
Cling .... Saya langsung terdiam, moment of silent kata orang-orang. dunia seperti berhenti berputar, slowmotion. Durian magelang, saha terbengong...alah, pantas saja, sejak awal saya memang sudah curiga, satu persatu saya cek tak ada satupun durian jatuhan, semuanya dipetik menyisakan batang panjang. Moso sih sekelas dan semashur Brongkol duriannya di petik?. Kenapa di petik, apa memang pohonya jauh ? apa disini cara panen kaya di Thailand yang konon katanya cuma di petik?
" Kowe nang dhi mbah" kata aswin lewat pesan singkat mengkagetkan saya.
"Aku wis nang Brongkol" kata saya Mantap
"Aku yo wis nang brongkol!!.Lah kowe brongkol ndhi?.aku dah masuk kampungnya". Kata Aswin
"Di brongkol di tempat jualan duren Win
"Walah masih dibawah toh..mbah mbah... yo wis aku mendun, tunggu di pasar ae" kata aswin.
Bersambung.....
