Andri, Jawara Durian dari Desa Kadu Bereum, Serang

oleh Sigit Purwanto

Durian Sitokong terbelah dengan daging yang masih putih pucat

“Wahh mentah ini pak, masih putih. Ini panen pertama durian Sitokong” kata Andri meski terlihat tegar, dari mukanya tercemin rasa kecewa yang dalam. Siapapun yang mengalami pasti kecewa, Lebih dari 5 tahun membuang waktu & biaya untuk memelihara durian Sitokong namun hasil yang di dapatkan tak memuaskan. Beruntung di lahan seluas 15 hektar Andri tak banyak menanam jenis durian ini, jenis durian yang lain yang sudah berbuah sudah cukup menghidupi kebun.

Pria berkopiah hitam memegang durian di depan warung

Selepas sholat jumat, dengan kopyah hitam masih menempel pak Iwan subakti senior mania durian dari Kota Serang mengajak saya ke sebuah kebun yang sedang ngehit, Sahara durian farm terletak di Kampung Cirampayak, Desa Kadu Bereum, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Dari tol Serang timur, Mobil di pacu ke Jalur Alternatif Serang – Anyer. Selepas belokan SMP Pabuaran jalan mulai berlubang. Semakin kedalam semakin rusak saja jalan yang kami lalui.

Gerbang kecil masuk ke perkebunan di kiri jalan mengakhiri penderitaan kami. Dikanan kiri jalan ratusan pohon durian sedang berbuah memanjakan mata. Segala macam jenis durian, sebut saja mau Durian Bawor, Sunan, Lay, Petruk, sunan musangking atau Duri Hitam ada disini. Yang suka bukan saja jenis durianya yang berlimpah, saya suka dengan penataan kebunnya yang apik. Sepanjang jalan sejauh kira kira 700 meter setiap pengunjung langsung dimanjakan pemandangan durian sedang berbuah. Dan hulunya dijadikan lahan parkir dan warung display panen durian.

“Silahkan mas boleh lihat – lihat dulu kebun kami, kata penjaga warung durian ramah. Dibalik warung display puluhan pohon durian buahnya sedang meranum. Buahnya tak seberapa tinggi, asik sekali buat ajang selfi. Beberapa ibu ibu asik sekali “nganduli” duren sambil memegang kamera. Ceprat-cepret pose sumringah.

“Amazing mas bagus sekali. Ini kebun durian pertama di Banten yang di buka. Jarang lihat buah durian pendek gini. Biasanya tinggi baru buah” kata ibu Santi pengunjung dari Serang “Ini d24” kata penjaga kebun di bawah pohon tak seberapa besar namun buahnya sangat banyak. “Moso sih bukan aah.. Ini daunya mirip durian dari thailand. ” Nah itu ada yang gandul, dah jatuh tuh nanti kita cek. Kata Zoel Suparta durian traveler dari Semarang yang ikut bersama saya.

” Hallo mas, saya Andre” kata seorang pemuda sederhana dengan topi dan tas selepang.

“Oh iya, Mas kerja disini”?. kata saya.

“Iya, saya pemilik kebun disini kata dia ramah.

Gubrak. Saya hanya bengong melongo tak tahu mau jawab apa. malu saya rasanya. Teryata yang berdiri didepan saya, seorang pemuda sederhana adalah pemilik kebun Durian seluas 15 hektar. Bukanya enggak percaya, dari pengalaman saya blusukan di kebun durian, rata rata pemiliknya berusia diatas 40 tahun. Hampir bisa di bilang kang Andri pekebun durian termuda yang pernah saya temui.

“Ee iya mas nama saya sigit mas”, kata saya terbata bata.

“Ini durian apa ya kang”? Kata saya mecoba melepas kikuk.

“Ini sitokong buah pertama mas, kalau itu baru d24 dari Malaysia kalau disana ada Bawor, Perwira dan buanyak durian lokal yang bagus sedang berbuah” kata Andre

“Ini juga bukan d24 ini. Ini D-168 atau Masmuar, dari d24 ciri buah dan daunnya sudah sangat terlihat. Memang dulu ada kesalahan pemberian label atau nama oleh penjual bibitnya. D168 di labelin d24 kata pak Iwan Subakti.

Warung display Sahara Durian Farm dengan keranjang-keranjang durian

Semakin sore, semakin banyak saja pengunjung yang berdatangan. Ritualnya sama, berkeliling kebun, berfoto ria lalu menikmati durian yang disajikan. Semua terlihat bahagia.

“Saya suka ini manis ndak ada pahitnya kata pengunjung kegranjingan Lay kerabat durian asli Kalimantan yang juga sedang berbuah di kebun Andre.

“Saya tanam semuanya karena selera pengunjung berbeda beda soalnya ada yang minta manis aja ada yang pait”. Kata kang Andri sambil mengajak kami berkeliling kebun.

“Kalau total pengunjung perhari belum kiita hitung yah. Pokonya kalau hari libur pasti penuh. Sampe ngantri mau masuk sini. Padahal saya baru buka bulan desember tahun 2017. Saya buka karena melihat banyak pohon berbuah. Saya pengin memperlihatkan dan memotivasi warga Banten dan sekitarnya untuk berkebun durian”. Kata Andre.

Pengunjung menatap pohon durian yang sedang berbuah di kebun

Semua dimulai tahun 2011. Berawal dari hobby dan keprihatinan terus merosotnya jumlah dan kualitas durian di desanya. Andre nekat merubah tanah 5 hektar yang biasa ia tanam sengon menjadi kebun durian.

“Durian dari hobby kang, juga karena ada kejadian saya lupa tahun berapa. Tahun itu banyak pohon durian di kampung saya ditebang karena tidak berbuah-buah . Saya prihatin, Apalagi Banten kan terkenal dengan durianya. Kalau ditebang semua bahaya kita kehilangan ikon sebagai kota durian. akhirnya kita pengin punya satu kebun yang isinya beragam durian. Dari lokal banten. Lokal unggulan nasional hingga durian dari Malaysia”.Kata Andri

2 tahun berjalan, keberhasilan Andri mengebunkan durian menarik kolega dan saudaranya untuk ikut bergabung. Dari 5 hektar kini mengembang hingga 15 hektar.

“Ini lokal” kata Andre, sambil menyodorkan sebongkah durian. Durinya cukup tajam dagingnya kuning dengan kriput menggiurkan. Meski tak seberapa besar, durian ini layak jadi unggulan lokal. Dagingnya lembut tanpa serat, gurih lumer di mulut.

Durian Sitokong yang baru dibelah di atas bangku bambu

Selain durian unggulan nasional, andri memang tak melupakan durian lokal primadona di kampungnya. Ada sekitar 15 durian lokal yang masih ia jaga pohonya. “Kalau lokal ada si Pulen, Lengkeng,Dupak masih ada beberapa lagi, kalau ini durian Channee atau Bawor sudah buah 2 kali dan alhamdulillah sudah bagus, kalau ini Sitokong yang jatuh tadi”. Kata Andri sambil membelah durian Sitokong

“Wahh mentah ini pak masih putih. Ini panen pertama durian Sitokong” kata Andri lemas. Meski buahnya terlihat besar segar dan menjanjikan sayang sekali dagingnya buahnya seputih kapas dan keras.

“Sitokong kita belum tahu. Ini tahun pertama berbuah, baru tadi jatuh, sayang masih mentah mungkin kena angin juga. Kata Andri

Senada dengan Andri, Iwan subakti pun terlihat kecewa, tanganya membolak-balik durian Sitokong,

“Coba belah sampinnya, Ini varietas unggulan nasional yang sudah dilepas kenapa hasilnya seperti ini. Kan kasian petani yang nanam. ini buah pertama diharap bagus ini sudah jatuhan teryata dalamnya masih sangat keras tindak bisa dinikmati kata beliau

“Justru itu kita priatin kalau ada bibit terutama bibit yang sudah tersertifikasi di bagikan pada masyarakat nunggu sekitar 6 tujuh tahun berbuah hasilnya jelak. Waktu terbuang, biaya terbuang tapi hasilnya diluar memuaskan. Misalkan ini klon bagus pasti buah jatuhan pertama ada ciri ciri enak tapi ini jauh dari rasa enak dan jauh dari harapan. Kata Iwan subakti kesal

Panen tidak sesuai harapan memang sering menjadi momok cukup menyakitkan bagi petani durian. Beruntung di lahan seluas 15 hektar Andre tak banyak menanam jenis durian ini, jenis durian yang lain yang sudah berbuah sudah cukup menghidupi kebunya.

“Berkebun durian Sangat menguntungkan, menurut perhitungan saya seperti investasi yang menjanjikan. Karena setiap pohon yang berbuah sekali saja, modal tanam dan biaya perawatan sudah mulai kembali, tinggal nanti panen berikutnya jadi pendapatanya”, Kata andre

Bangga melihat pemuda ini, sosoknya mungkin sederhana tak sesangar jawara namun semangat memajukan desanya sungguh luar biasa. Kendala cuma kerikil kecil bagi dia. Desa Kadu Beruem yang 5 tahun lalu tak terdengar gaungnya kini menjadi tujuan utama wisata durian di Provinsi Banten. Jawara jaman Now tak perlu menakuti tapi menginspirasi