Durian Empe, Durian Lokal Sekelas Durian Duri Hitam
Jakarta, 25 Januari 2018 · oleh Sigit Purwanto

“Ini dia” kata Adi Gunadi sambil memegang durian berkulit hijau. Matanya berbinar pak Adi seperti menemukan sebongkah emas murni. Sesekali ia timang, pelan ia hirup aromanya. Hmm… Ini dia Durian andalan saya, Durian Empe.

Daging Empe berwarna oren dengan kerlingan lemak yang menggoda. Rasanyaaa. Beeeehh…!!!! Gurih lemak beradu lembut di mulut. Yang istimewa sengatan pahit menggelitik indera pengecap. Pahitnya panjang lembut tak menghentak dengan rasa manis yang tak ketinggalan. Saya sampe terduyung menikmati lezatnya durian lokal dari pulau Kundur ini.
Karena pak Adi Gunadi dan teman temanlah saya mengikuti tur ke pulau Kundur. Tak banyak orang Indonesia yang bolak balik ke Malaysia dan Thailand hanya untuk mengunduh rasa, menyelaraskan lidah dengan beragam durian yang kualitasnya di akui dunia.
“Saya tiap tahun ke Malaysia, Thailand bahkan tahun kemaren 5 kali saya ke Malaysi kata beliau di sela tur.
Di Malaysia pula Adi gunadi mendengar kelezatan durian lokal pulau Kundur
“Kami mendengar dari kawan kami bahwa di Kundur ada durian yang kualitasnya seperti di Johor, saya cukup terkejut agak sulit menemukan kualitas yang mirip di Johor . Kami kesini bisa di bilang eksplorasi mencoba mencari varietas lokal yang suatu saat bisa dikembangkan” kata Adi Gunadi
Kundur adalah sebuah pulau di kabupaten Karimun, provinsi Kepulauan Riau. Dari Jakarta pulau ini bisa dijangkau lewat Batam lalu dilanjutkan kembali mengunakan speed ke pelabuhan Tanjung Batu Pulau Kundur
Hari menjelang siang, ketika saya sampe di pelabuhan Tanjug Batu, pelabuhan kecil ini cukup ramai, harum aroma durian menyambut saat pertama kali saya menginjakan kaki di pulau yang letaknya “selempar galah” dari negara Singapura.
Dari pelabuhan Tanjung batu, mobil di pacu kebarat pulau Kundur, meninggalkan kota menuju desa Poyo Panjang . Sepanjang jalan kebun durian dan rambutan selang seling menjadi pemandangan kami.
Saya suka sekali dengan rumah milik Jonny chan. Rumah asri terletak di tengah kebun dan kelilingi pohon durian dan karet. Rumah berwarna putih selasarnya di penuhi beragam durian berukuran sedang.

Tanpa basa basi pemilik rumah langsung menyuguhi beragam durian lokal Kundur.
Rasany hmm… Hampir tak ada yang mengecewakan. Yang membuat istimewa durian local Kundur mempunyai daging berlemak lembut tanpa serat. Suana pun jadi gaduh saat durian berwarna kuning cerah di sajikan.
“Ini green skin atau Che Puy” kata Jonny.
Hampir setiap peserta tur sibuk mengabadikan durian cantik ini. Soal rasa lagi lagi saya harus akui, durian ini istimewa. Selain penampilan, tekstur dan rasa durian ini juga istimewa. Dagingnya tidak terlalu berair lengket tapi lembut seperti eskrim. Sekali gigit Sentuhan pahit hadir mengiring daging yang lumer di mulut..hmmmm ……

Secara turun temurun, selain karet berkebun durian sudah menjadi tradisi keluarga di pulau Kundur. Ahan Chen misalnya turun temurun keluarganya memelihara durian lokal seluas 2 hektar yang lokasinya tepat di depan rumah . Durian lokal di tanam bersama beragam buah unggulan lain seperti Dukuh dan Pulasan. Jadi, bila anda berkunjung ke Kundur selain durian anda bisa menikmati buah-buah eksotis ini.

Kedekanan geografis dengan Malaysia dan Singapur juga ikut merubah wajah kebun durian di pulau Kundur.
“Dulu sebelum perbatasan ketat, banyak warga Kundur punya usaha barang bekas di Malayisa dan Singapura kalau pulang ke Kundur mereka biasa bawa bibit durian atau kita mesan bibit ke mereka” kata pak Siou Seng orangtua Ahan “saya beli bibit K24 , lalu saya tanam di halaman” kata beliau menambahkan
“K24 itu MDUR 88 bang” kata Ahan menimpali.

Dari perdagangan turun ke lahan begitulah awal cerita kenapa kini di pulau kundur banyak terdapat klon durian Malaysia seperti Musangking. D24, Masmuar.D13 dan lain sebagainya.
“Iya mas disini, di pulau Kundur durian intruduksi termasuk di Indonesia yang pohomya paling tua. Disini ada pohon Musangking yang usianya 30 tahun kata Adhi Gunadi

“Ini MDUR 88” Kata Jonny, sambil memegang durian cukup besar dengan kulit coklat keputihan. Mdur 88 punya daging kuning tebal mempesona, begitu dikorek semburat daging oren melapisi kulit daging yang berwarna oren. Soal rasa.. Saya tak pernah merasakan durian dengan rasa seunik ini. Daging tebal berlemak sangat krimi dengan balutan rasa asam yang gurih. Lembut legit sedikit asam benar benar memanjakan lidah saya.
“Ayuuk ini terakhir. Kata Adi Gunadi sambil menenteng durian andalannya Empe. Semburat oren langsung terlihat begitu durian terbuka. Kulit arinya renyah begitu digigit. Daging selembut es krim lumer dalam sekali kecap. Rasa pahit dan manis langsung menjalar menjelajah rongga mulut. Rasanya mengingatkan saya akan sensasi kopi Luwak dari perkebunan Dampit yang pernah saya nikmati beberapa tahun lalu. Rasa yang tak pernah hilang selalu tinggal di lidah saya.
“Durian ini termasuk durian baik menurut saya, kata Adi Gunadi
“Dagingnya kalau orang melayu bilang “lemak”. Lembut tapi tidak terlalu becek, kadar airnya tidak terlalu banyak lengket tidak berserat. Biji besar atau tidak itu buat saya tidak terlalu penting selama dagingnya masih tebal itu masih masuk nominasi tapi rasa adalah penting. manis pahitnya. Ada balance yang baik kadang ada durian yang manis aja. Ada pahitnya kuat manisnya ketinggalan. Kalau ada katagori “balance” yang baik kita kategorikan masuk seleksi kita rekomendasikan untuk di kembangkan.
“Kenapa bisa di usulkan, karena aroma, ketebalan daging dan rasa nya unik. Bisa menjadi alternatif yg masuk dalam katagori durian berkualitas selain musangking dan duri hitam” kata beliau
Di pantai Lubuk kami mengakhiri perjalanan di pulau kundur, deburan ombak, seruputan kelapa muda tak meleruhkan rasa durian Empe di lidah saya. Jalan masih jauh untuk bisa membuktikan durian Kundur bisa bersanding sekelas musangking atau Duri Hitam Meski jauh binarnya sudah terekam di lidah saya.
Jakarta, 25 Januari 2018
