Berburu Durian Di Baduy

Baduy, 27 Januari 2018 · oleh Sigit Purwanto

Dua bocah Baduy memikul durian di jalan batu kampung

Badan saya gemetar. 20 buah durian dipikulan seperti mencengkram sendi. Berayun menstabilkan badan tak membuat bebannya berkurang, malah makin mencekik rusuk . Saya harus bertahan. Malu rasanya  bila menyerah, beban seberat ini biasa di bawa Kalman dan Nardi bocah Baduy berumur 14 dan 12 tahun. Baru 5 langkah,tulang punggung menjerit kesakitan. Ampun, saya hempaskan durian ketanah.  tak sanggup saya membawa 20 durian.  Padahal Kalman dan Nardi, 2 bocah kurus  ini setiap hari mengakut durian ini  kampung terluar Baduy, Kadu Ketug sejauh 10 Kilometer. 5 langkah saja saya sudah sekarat. Apalagi kesana..

Pria Baduy memikul tandan durian di jalan kampung

Warga Baduy beriringan memikul durian

Bocah Baduy memikul durian bersama pemuda di jalan kampung

Bocah menata durian di atas tampah

Setiap musim durian tiba, desa adat Baduy seperti berpesta. Setiap pagi di ladang hingga sepanjang jalan, riuh aktifitas memanen durian. Tua,muda anak kecil semua terlihat  memangul durian . Sungguh altifitas sangat menarik untuk di abadikan.

Warga Baduy memikul durian melintasi kampung

Momen seperti ini sudah lama saya tunggu. Tengah malam berbekal kamera saya bersama kang Iwan Subakti, Zoel Suparta dan Yardi Limas sudah Sampe di Baduy. Paginya, kami sudah  siaga mengabadikan momen setahun sekali ini.   Jam setengah enam, momen yang ditunggu akhirnya datang . Tua muda seperti sepur berarak muncul dari tingkungan desa. Grimis tak diidahkan. bebannya seperti tak dirasa padahal bila diitung lebih 40 kg mereka pikul sejauh lebih dari 10 km.  Belum lagi tanjakan yang pasti menguras tenaga. Rasanya nyesek kalau tahu berapa mereka diupah.  Sejauh itu, seberat itu dibayar hanya 1.000 rupiah perbuah. Sungguh hidup di Baduy tak seindah di foto..

Siluet warga menimbang durian di dalam rumah

Durian menggunung di serambi rumah bambu di Kadu Ketug

“Hirup di Kanekes tea boga kadu kadu acan” , “hidup di Kanekes atau Baduy kok tidak punya pohon durian” filosofi santir Baduy perumpamaan bagi orang yang malas dan kurang jeli memanfaatkan Alam sangat gamblang menggambarkan masyarkatnya sangat menghormati buah berduri ini. Memiliki pohon durian adalah “prestise” sama seperti orang kota mempunyai mobil atau motor.

Desa kadu ketug pagi ini benar benar mengkerlingkan pesonanya. Seperti namanya Kadu Ketug yang artinya durian jatuh kampung ini setiap pagi “dijatuhi” durian dari puluhan desa lain sekitar kampung Adat Baduy. Beberapa rumah ratusan durian menggunung di serambi. Di desa inilah durian Baduy dikumpulakn lalu dijual ke daerah Lebak,  Pandeglang hingga Jakarta.

Hiruk pikuk bongkar muat durian sudah menghabiskan cukup banyak memori kamera saya. Kerling Kampung Kadu Ketug Sebenarnya masih bagian kecil dari pesona Baduy. itu baru gerbang, bila kita menyusuri jalan setapak hingga kampung Ciboleger, hampir setiap sudut sangat Istagramable susah untuk tidak melepas rana mengabadikan keindahan ngarai dan pokok durian bertengger asri menaungi Kampung Adat Baduy.

“Itu kebun saya Kang, saya lagi panen” kata Mulyono pemuda kampung Cicempaka yang menemani kami berkeliling. Mul memliki 100 pohon durian warisan keluarga, setiap hari mul mengumpulkan sekitar 200 butir buah durian.

Pria Baduy berikat kepala duduk di bangku bambu dekat sungai

Rumah-rumah adat Baduy di bawah pepohonan tinggi

Jalan baduy masti seperti 3 tahun yang lalu ketika pertama saya kali datang. Jalanya setapak dengan tanjakan cukup menguras nafas. Air jernih yang mengalir di talang bambu cukup melegakan nafas, bekal untuk melanjutkan perjalanan. beberapa anak Baduy yang mengangkut durian terlihat kelelah dan beristirahat di gubuk pinggir jalan.

Warga memikul durian menaiki tangga batu

“Anak Baduy itu bukan diperkerjakan kang tapi harus belajar sejak kecil jadi nanti kalau sudah besar kerjanya nanti seperti itu , bukan dipekerjakan tapi belajar dengan alam belajar apa yang biasa dilakukan orang dewasa” kata Mulyono

“Disini pohonnya tinggi tinggi” kata Mul sambil menunjuk pohon setinggi 12 meteran. 
” Ini baru pertama berbuah,  padahal usianya diatas 10 tahun. Disini mungkin dulu menanam durian tidak memikirkan kualitas. Sekarang dah besar kualitas tidak terlau bagus dan tidak pakai pupuk bemar benar.  Sama aja sama habir satu jenis yang kuning ada, tapi jarang” kata Mulyono

Pria Baduy berikat kepala membawa dua durian di pundak

Pohon durian menjulang di antara rumah-rumah Baduy

Pemuda Baduy berikat kepala memegang durian

5 buah meluncur dari ketinggian. Diatas pokok. Tukang petik masih sibuk memilih pohon yang tua. Berkah durian tak hanya dimiliki pemilik durian. Pemetik pun ikut kecipratan rejeki. Setiap hari mereka mendapat penghasilan 100 ribu untuk memetik durian. Tugas yang sangat berat sebenarnya.  Setidaknya mereka harus turun naik 15 pohon setinggi 12 hingga 30 meter pohon durian untuk mengumpulkan 100 buah durian.
Untuk menjaga kualitas, warga baduy sebenarnya punya kearifan lokal dengan mengikat durian yang tua agar tak jatuh ke tanah. 
”Takutnya jatuh kena batu kang nanti pecah buahnya”. Kata Mulyono. 
Sayangnya setiap menurunkan durian yang sudah matang, mereka juga memetik durian yang dianggap sudah tua. Saya sebenarnya agak resah dengan cara ini,  bagaimanapun memetik durian sangat riskan dan pasti menurunkan kualitasnya.  Apalagi tanpa bekal kalkulasi umur buah yang cukup, sangat besar kemungkinan durian yang di petik masih muda. 
”Itu kan yg kerja metik 1 hari 100.000 jadi kalo ambil yang jatuhan saja dapetnya paling 30 butir itungannya kita rugi.” kata Mulyono

Durian Baduy rata rata berat sekitar 8 ons hingga 2,2 kg. Soal rasa,  durian Baduy yang baik matang sempurna punya kualitas yang lumayan baik. Meski daging buah putih,  rasanya legit berasa ketan. Sedangkan yang lain 2 buah saya makan rasanya hambar sedikit manis jambu.. 
”Sayang yah” kata Iwan Subakti durian traveler yang sudah puluhan tahun mengamati durian di daerah Provinsi Banten.

Durian Baduy berdaging putih terbelah di atas meja bambu

Pria Baduy memikul tandan durian di jalan kampung

Pria berkacamata memikul durian di jalan batu kampung Baduy

“Kabupaten lebak di Banten yang produktifitasnya tinggi  salah satunya Baduy sayang kualitas dibawah rata-rata karena tidak diberi perawatan secara khusus  ada kala baik ada kalanya tidak baik tapi lebih banyak rasanya di bawaah standar.Yayasan kami kami Yayasan Durian Indonesia Akan melakukan bimbingan dengan mengganti durian dengan kualitas baik diharapkan nanti masyarakat Baduy mendapat pendapatan yang lebih dari durian.” kata Iwan Subakti.

Tiga pria tersenyum berfoto bersama di Baduy

Jembatan bambu di atas sungai di Baduy

Pria Baduy berikat kepala duduk di bangku bambu dekat sungai

Tak banyak tempat di Indonesia yang masyarakatnya begitu menghormati durian seperti di Baduy.  Saat ribuan pohon durian ditebang untuk di manfaatkan kayunya di Baduy  kearifan lokal masih kukuh menjaga tegakan durian lestari. Tegakan tak berarti apa apa bila kualitas buahnya tak terjaga. Semoga dengan bimbingan pemerhati durian, pemupukan, seleksi durian dan penambahan jenis durian yang nilai ekonomi tinggi,  saya yakin 1 atau 5 tahun kedepan Baduy berkibar menjadi sentra durian yang diperhitungkan di Nusantara. Dan yang dipikul oleh Kalman dan Nardi bukan lagi durian seharga 15.000 tapi durian istimewa durian dari tanah Baduy dengan harga 500.000.amiin

Baduy, 27 Januari 2018