Raden Montong Dari Karang anyar
oleh Sigit Purwanto

Kamis 2 maret 2017 ketika Raja Arab Saudi sedang berkunjung ke DPR, saya sedang asik menikmati durian montong di kebun milik Johan Ariono. Kulit buahnya renyah,daging lembut tanpa serat, rasa manisnya meleleh dilidah seperti keju mozerela hangat. Hmm….so yummy. Ahh.. ini oasis di tengah pacekliknya durian di pulau Jawa.
2 hari sebelum perjalan dinas nguli tinta di Jogja, saya memang mengincar bapak yang satu ini. Di sebuah timeline Facebokk kiriman bapak Lutfi..ditulis detil tentang sebuah kebun di Karangayar yang berbuah lebat. “What… di masa paceklik durian di pulau Jawa masih ada yang panen!!. Pasti ini orang luar biasa, guru yang mesti dikopek ilmunya, nek iso dibundel ilmunnya kayak serat Centhini.
Tanpa basa basi saya langsung mengirim pesan ke beliau lewat FB dan meminta ijin sekedar berkunjung. Beliaupun dengan bijak mengiyakan namun tanpa janji bisa bertemu. Minggu ini tamunya menggunung. Kabar kesuksesan beliau yang berhasil memanen durian di masa paceklik, seperti kabar penemuan batu akik Giok 20 ton di Aceh. Semua orang ingin berkunjung, semua orang pengin menikmati durianya, ya.. orang itu termasuk saya.
8 hari berlalu di Jogja perkerjaan sayapun sudah selesai. Saya sengaja mengambil last flight biar bisa mampir ke kebun beliau. Eiit sayang sekali mungkin tak ada jodoh, beliaupun masih sibuk antar pulang seorang peneliti durian dari Malaysia yang juga “soan” ke kebunnya. “Yo wis nasib, piye meneh tuku Bakpia aee ra sah lihat duren”. Dalam hati saya baper.
“Nek penerbangan jam 20.00, kekebun aja mas, Ada istriku ma pekerja, enggak papa nanti saya nyuusul”.
Wedih kaya kena angin surga ketika di wall message beliau mengatakan seperti itu. Langsung secepat kilat “gedebag-gedebug” saya rapikan baju dan cabut dari hotel. Supir rental saya pun sampai bingung melihat saya kesetanan kayak Jaran Kepang."mau kemana kita mas?."
“Wis melu aee kita karanganyar"
Jogja- Karangayar saya tempuh selama kurang lebih 2 jam. Masuk ke dusun Tepus seperti masuk ke desa wisata buah. Disana-sini pohon buah tertata rapi. pohon durianpun menggudang di sela sela rumah warga. “Tapi kok ndak da yang buah yah hoax kali yah.” Kata saya dalam hati.

Mencari rumah pak Johan gampang, tanya aja warga sekitar, semua tahu rumah beliau, dari pintu utama kampung ada jalan kecil menjorok ke dalam, jalannya seperti lembah kecil dan muaranya adalah perkebunan beliau. Dari pintu gerbang, disebelah kiri sudah terlihat sekitar 20 buah durian yang maha besar. “Kok koyo ngawe –ngawe, ngileri”. “Pernah di taksir wong ayu, mak seeer yo, yah gitu rasane, pokok e’ .. “ngateli, bawaanya pengin dipenek'’
Baru saya masuk ke kebun, di belakang sudah muncul pak Johan dengan mobil tuanya. walah kok bareng. nek Akamsi mang lebih hebat, tau jalan nek wong Bekasi ki kantro tahunya jalane lurus tok, jadinya lammmmaa.
“Jangan disini panas di belakang saja”. Katanya ramah.
Pak Johan terlihat masih muda dan energik, beliau tergopoh -gopoh menerima kami kayak kedatangan raja Solo aja . “..elah pak, aku ki sopoo. Lare alit sekelaas mukidi kok disambut ngono, jadi saya yang rikuh pakewuh.”
Bunyi telepon selular pak Johan bertalu-talu tanpa henti, hampir setiap menit ada yang menayakan Durian.
"Nanti ya pak"
"Coba minggu depan"
Katanya berkali-kali, pak Johan sepertinya kewalahan menerima tingginya pemesanan.
"Maaf ya mas, ini sudah 400 orang mengantri mau beli durian, stok lagi terbatas. Saya juga ndak bisa lansung lepas, setelah jatuh saya cek dulu kualitas buah durianya. Kalau ok, baru saya lepas ke pembeli" katanya bijak
Saya pun menarik nafas panjang, mata nanar, buah durian diatas pohon seperti bersayap, terbang entah kemana, Zonk!!..tak kan ada durian yang bisa saya nikmati..
"Sebentar"katanya dan lalu ke rumahnya yang terletak disebelah kebun. Mata saya pun masih nanar, buat penawar saya nikmati saja pemandang pohon durian montong yang sedang berbuah. Bila berdiri di kebun durian seperti ini, alamak nikmat apalagi yang kau dustakan. Dari pojok ke pojok pokok durian cukup lebat berbuah. Ukuranya itulah yang bikin kagum geudeeenya mas broo… Rata -rata diatas 5 kilo. Belum lagi lahanya tertata rapi berundak. Pohonya pun seperti dijaga ketinggiannya tak lebih dari 7 meter, nampak seragam kayak anak SD lagi upacara.
Pak Johan memang orangya penuh kejutan. Saat masih tengelam oleh pesona kebunya, beliau datang meneteng buah duriaan. “Ini ada satu baru jatuh tadi pagi, karena kalian jauh-jauh sudah datang ini spesial buat kalian, Mari nikmati.” Glek… langsung air liur saya mengalir deras. Buah durian yang lonjong sempurna saya cium.hmmm.. tak ada aroma wangi namum harum alami yang susah dideskripsikan.
Dagingnya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Begitu digigit “mak kres” renyah seperti kulit eskrim coklat. It’s soo kranci. daging buat sangat lembut hampir tanpa serat meleleh disetiap kecapan lidah. Rasanya manis tanpa pahit Kalau diitung skala breek pasti lebih dari 18%. it is so yummy….lekkerlah.!!!
Lahan seluas satu hektar ini mulai tanam tahun 2000. Kuncinya adalah bibit yang sudah teruji, “adaptif” bahasa petaninya, umur 2,5 tahun dengan tinggi 1,5 meter.
“Saya tidak pakai pupuk kimia lihat tanahnya masih gembur, cacing juga banyak nih nyarang di bawah pohon”. Kata pak Johan.
Perkara pupuk memang menjadi pelik bagi petani durian. Salah sedikit berbahaya. Kurang pupuk buah tidak maksimal, kebayakan bisa over dosis dan mati. Karena itulah 13 tahun Johan rela bolak-balik ke Malaysia dan Thailand demi mendalami ilmu ini.
Sambil berkeliling kebun ia pun rela berbagi ilmu dengan saya.
“Tanah kita lebih bagus dari mereka, cuma kita kurang tahu cara pemupukan, untuk hasil yang bagus kita harus pakai NPK yang seimbang, tapi ati-ati jangan over dosis, nanti kalau sudah masa belajar buah beri pupuk P dan K tinggi dan usahakan yang organik”.
Lokasi penanaman yang ideal adalah 200 sampe 500 mdpl. Yang tak kalah penting Unsur hara tanah, pH harus 5 keatas kalau bisa sampe 6,5. pH kurang dari 5, tanah akan asam dan unsur hara pada pupuk tak akan terserap oleh tanaman. “kalau bisa yang organik yah”!!!. Katanya mantap.
Organik memang menjadi pegangan penting Johan dalam berkebun durian, ia pernah mengalami pengalaman pahit menggunakan pupuk kimia.

“tahun 2004 sampe 2010 kebun memang saya pacu berbuah dengan pupuk kimia, hasilnya pun luar biasa, namun setelah itu tanah saya bermasalah, residu pupuk kimia tinggi, tanah menjadi bantat dan asam, sampe 3 tahun saya tidak panen, makanya saya beralih ke organic saja”.
Bila semuanya sudah benar dalam setahun bisa panen 2 kali, satu kali panen raya. Satu lagi panen dengan perlakuan khusus “menstreeskan” pohon dengan mengurangi air selama 2 minggu, setelah itu pohon kembali berbungaa.” Katanya semangat..
Membangun sebuah perkebunan durian bukanlah perkara yang mudah, diperlukan modal yang besar, kesungguhan, pengorbanan ketelatenan bertahun tahun. Tak terasa lebi dari 2 jam saya nangkring di kebun pak Johan. Sambil menikmati muanisnya kelengkeng dari kebun pak Johan saya pun berpikir. “Gile ya punya pohon durian, satu pohon aja bisa berbuah 50 durian, dipohon saja harganya 50 ribu perkilo. Dengan berat rata rata 5 kg satu musim saja satu pohon menghasilkan Rp. 12.500.000. Kalau punya lahan sehektar saja dengan 100 pohon hasilnya Rp 1.250.000.000 brooooo!!!.” Cckkkckkkk….Kalau ngomong pohon duit ya ini pohonya”.!!!!
Menurut saya sih pak Johan pantes di kasih gelar bangsawan Raden Montong oleh keraton Kasunanan Surakarta, dari pada dikasih ke Artis ndak jelas, toh mendingan beliau yang jelas-jelas sudah berkarya demi masa depan durian di Indonesia.
Pak Johan denger - denger mau Thailand dan Malaysia lagi yah? ajak saya yaah.. Ahay pengin tahu rasanya MK dan Ochee. Makasih juga duriannya digratisin.
