Antara Meteor Jatuh, Gajah Mada dan Durian
oleh Sigit Purwanto
Di sebuah ruangan besar yang penuh dengan patung kayu, hanya ada satu patung yang membuat saya merinding. Letaknya di pojok ruangan. Pelan sekali saya beranikan diri untuk mendekat itupun dari belakang . Entah patung ini dibuat dari kayu apa, porinya sudah membatu dengan warna coklat Seng karatan. Diatasnya teruarai jambul menggelombang. Konon Sorot mata patung ini sangat tajam. Sorot mata yang membuat mbak Dewi dari yayasan durian Indonesia terbirit ketakutan.
“Tidak mau serem, auranya beda banget” Kata mbak Dewi saat saya ajak untuk kembali menengok patung tersebut.
Menurut pak Tirto pemilik rumah, patung itu ia dapat dari pengrajin di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur,
“Entah kenapa jodohnya ke saya tapi waktu saya datang ke workshopnya memang saya seperti di patri ke patung itu padahal itu belum diukir . Pas saya ketemu pengrajinnya langsung bilang begini. “
Wah pak Tirto datang, saya sudah tunggu tunggu loh saya mau kasih sesuatu buat bapak.
“Alah saya tahu kayu yang di workshop itu kan” “Loh kok tahu pak”..
“yo tau aee”kata pak Tirto bercerita dengan bahasa Jawa Suroboyoan.
Pak Tirto memang dekat dengan para pengrajin. Hampir semua pematung kayu di Jawa Timur hingga Jawa Tengah kenal beliau. Setiap hasil ukiran yang punya estetika tinggi pasti ditawarkan ke beliau. Tak heran rumahnya di Trawas Mojokerto penuh dengan beragam patung kayu yang indah dengan detail sempurna. Hubungan pak Tirrto dengan pengrajin ternyata lebih dari sekedar urusan ekonomi. pak Tirto lah yang pertama kali mendorong pengrajin untuk membuat patung kayu dengan kualitas nyaris sempurna.
“Aku iki kan pensiunan kerjaku luntang- lantung tok. Suatu saat di perbatasan Jawa Timur aku ditawarin patung kayu. Bahannya bagus tapi ukiranya jelek, nek ngene yo susah jualnya akhirnya saya nasehati pembuatnya untuk bikin yang bagus tapi nasehat tok yo pasti percuma akhirnya saya modalin, saya monitor terus sampe hasilnya bagus. Satu pengrajin sukses akhirnya pengrajin lain ikut gabung..Yo saiki koyo Bapak asuh aee”kata beliau.
Di pelataran rumah dekat kolam renang, sambil ngopi pagi saya memang inten ngobrol dengan beliau. Usianya mungkin sudah lebih dari 60 tahun tapi masih terlihat sangat bugar . “Saya ini dulu atlet Squash, lama juga jadi praktisi Tenaga Dalam. Dulu waktu muda sering nyepi di gunung Penangungan, konon disitu dulu tempat Gajah Mada nyepi juga” kata Beliau.
Rumah beliau memang terletak di antara Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno. Asri sekali dengan pemandangan kabut dan gunung yang sering berebutan. Selain menyimpam patung kayu kebagaannya pak Tirto juga menyimpan foto kegiatannya waktu masih aktif di seni Pernafasan Tenaga Dalam
“Ini foto Guru besar kami, ini saya dan ini teman teman Tentara yang belajar ilmu tenaga dalam. Jadi dulu tahun 90an di jaman konflik sebelum terjun ke lapangan buat benteng kita belajar tenaga dalam, syukur Puji Tuhan mereka mereka dilindungi dan pulang dengan Selamat” kata beliau Bangga
“Saya dulu dikenal sama teman teman punya daya luwih, jadi kalau ada yang berbau mistik pasti minta konsultasi ke saya. Pernah teman minta bantuan, salah keluarganya pernah kejatuhan Meteor dirumahnya. Batu Meteor Itu ia titipkan lagi ke saudaranya yang lain. Sayang batu Meteor itu disalah gunakan dijadikan batu Mustika untuk praktek kedukunan. Akhirnya Ia ambil kembali, tapi malah ia sering mimpi buruk dan selalu gelisah hidupnya, dia bingung harus bagaimana. Ndak tahu tiba tiba kayak ada ilham untuk mengubur Meteor di Gunung Penanggungan. Saya suruh beliau untuk dikubur disitu. Setelah dikubur gangguannya pun hilang” kata beliau
Angin dingin menghembus Pekarangan menipis Kabut tipis yang masih gagah menutup lahan 10 hektar milik Pak Tirto. Ditengah lapangan tombak tua pengusir hujan tertancap. Ratusan pohon durian yang tadi pagi terlihat temaram mulai terlihat jelas. Sejak 20 tahun lalu pengusaha perasa makanan ini mengisi sebagian besar pekarangannya dengan tanaman durian.
“Saya ini hobby makan durian, saya kok lihat walau harga lain turun durian yo kok stabil bagus terus. Akhirnya saya putuskan tanam durian. Ada Monthong, Musangking, Duri Hitam dan beragaam durian dari seluruh Nusantara. Kalau Gajah Mada bisa menyatukan Nusantara saya juga bisa juga menyatukan duriannya” kata beliau.
“Mas Patung itu ada Cahayanya, saya serius nanti bisa lihat sendiri muncul dari mulutnya. Dulu juga pas diukir ndak ada bayangan mau jadi patung apa, tapi pas jadi kaya itu dan pas diukir di Mulutnya keluar cahaya”. Kata Pak Tirto
Sendiri saya mendekati patung itu, segala doa saya rapal biar berani. Dari samping tak jelas patung apa menyerupai. Penasaran menjadi bekal saya maju selangkah berhadapan. Lewat kamera Hp saya beranikan melihat sekalian memotret. Dari dekat, tak ada cahaya terlihat hanya guratan-guratan panjang dari Mulut ke pipi seperti menyimpan semburat Matahari Pagi. Ukirannya pun sangat sederhana polos tanpa detail seperti patung yang lain. Biasa saja. Saya pun beranjak pergi meninggalkan patung tersebut dan menikmati patung patung yang lain yang menurut saya lebih indah dan cantik. Sekitar lima menit saya tenggelam di pesona detail ukiran kayu tapi entah kenapa pesonanya tiba tiba raib, seperti ada medan energi yang tiba menarik dan mematri mata saya ke sebuah patung di pojok ruangan yang letaknya tegak lurus di hadapan saya. Saya hanya menghela nafas dan langsung berlari..
