Saya Nyerah dengan Durian Perempuan Nakal

oleh Sigit Purwanto

Catatan Berburu Durian Di Kalimantan Timur.

Begitu saya ditugaskan meliput di wilayah Balikpapan dan Samarinda langsung saya girang. ingin rasanya meletup-letup di ruang rapat redaksi sambil mengepalkan tangan keatas lari berkeliling meja oval merayakan kemenangan. Tapi tak usahlah nanti ketahuan modusnye. "Yes yes" dalam hati saja sambil mengepal tangan dibawah meja sudah cukup.

Sebagai penggila durian siapa tak mau berkunjung ke Kalimantan Timur. Dengung eksotisnya beragam durian Borneo sudah nempel bertahun tahun di telinga meresap hingga ke otak hingga tak mampu lagi untuk menahan untuk kesana, tapi kapan?. Yes besok brO!!!!.

Bulan februari 2018, angin menggantung di kota Balikpapan, sepoy hanya terbirit sesekali lalu pergi di hardik panasnya kota. Ini kali kedua saya menapaki kota minyak ini, tapi ini sungguh beda, jantung saya berdegup lebih kencang seperti mau meminang gadis pujaan.

Dengan mobil sewaan, dari Balikpapan saya mlaju ke Samarinda.

"Dari km 21 nanti sepanjang jalan bisa ditemui penjaja durian, kalau beruntung bisa dapat macam macam durian hutan”. Kata M Aswin sobat saya petani durian di Samarinda.

Selepas kota Balikpapan, nyiur pemandangan pohon beton pelan pelan hilang diganti bukit bukit gundul. Sesekali pemandangan bukit di sekat seng seperti menutup aurat atau aib yang tak boleh dilihat oleh orang yang lewat. Dari selanya deretan alat berat terlihat njembul menggaruk bumi lalu memuntahkan tanah hitam.

Tanda km 21 seperti papan panah yang siap di terkam oleh mata saya. Berkilo kilo meter mata tak rela saya pejamkan. Terus berkeliar mencari titik Km 21.

“Nah ini mulai km 21 Mas” kata supir kami, mang cari apa sih bang?!

“Ada saja” kata saya bikin dia penasaran.

Selepas km 21 memang mulai kelihatan lapak berderet di pinggir jalan, tapi kosong. Harapan berpesta durian mulai kembang kempis. Wah kayaknya sudah telat saya datang, musim durian telah berlalu.

Namun Sendu sedikit terobati ketika masuk km 28. Ada satu desa yang mempesona di jalan berliku antara Balikpapan dan Samarinda. Keloknya aduhai dengan pemandangan hutan yang sedikit melompong. Nama desanya Batuah, Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Uniknya dan tambah girang saya, di sepanjang jalan di km 25an Sebelum sampe ke desa Batuah berderet penjual buah yang mirip durian. Lai begitu orang Kalimantan meyebutnya. Ini, ini !!! kata saya teriak.

“Berhenti dulu”, kata saya setengah berteriak.

“Wah ndak bisa kita ada janji liputan di stadion. Klau berhenti dulu dijamin kita kehilangan momen” kata kameraman saya mengingat kan.

“Iya yah” kata saya sambil menengok jam tangan.

Seperti melepas kekasih hati, berat sekali melepas lapak durian. Tapi. Biarlah masih ada waktu untuk kembali.

Jatuh Cinta dengan Durian Melak

Malam datang mengempur kota Samarinda, mega sungai Mahakam menawan mata dengan kerlingan bias lampu dibibirnya. Menjelajahi kota Samarinda sama seperti Mengecup bibir sungai Mahakam. Dibantaran Sungai terbesar di Kalimantan Timur inilah pusat keramian kota, mungkin dari sinilah julukan kota Samarinda sebagai kota Tepian berasal.

Di tepian sungai Mahakam pula, Harum aroma durian semerbak, dari kejauhan tamaram bertumpuk ratusan durian. Warnanya hijau seragam dengan bentuk lonjong seperti bola rugby. Durian Melak begitu jelas spanduk digantung diatas lapak. Melak adalah nama kecamatan di hulu Kutai Barat sekitar 6 jam dari kota Samarinda. Dari sanalah durian durian ini berasal.

“30 ribu bang”, kata pedagang durian dari logatnya pasti berasal dari Kalimantan Selatan. Tak perlu menawar buka bang kata saya teriak seperti mandor proyek. Aroma durian melak memang luar biasa, sangat tajam melebihi wangi durian dari Sumatera.

Begitu dibuka semburat daging kuning keriput menantang. Dagingnya lembut tanpa serat, begitu di gigit langsung meleleh di mulut. Rasa manis beradu pait lembut memanjakan lidah, dagingnya memang tidak tebal malah bisa di bilang tipis tapi rasanya sungguh memabokan lidah. Jaya sekali durian dari pedalaman Kalimantan Timur ini. Uniknya bentuknya dan rasanya seragam seperti satu Varietas hasil perkebunan . Bentuk hijau bulat, ukurannya tak lebih dari 2 kg. Rasanya pun seragam sungguh berbeda dari durian lokal di Sumatera yang variasi berjubel. Ini dia keunikan varietas durian di indonesia.

Dahsyat opening berburu durian saya di Kalimantan Timur, tapi saya masih ada daftar buruan durian hutan yang belum saya temui malam ini, tenang saja masih ada 2 hari untuk berburu.

Berburu Lay, Karantungan dan Lahung.

Di hari kedua, mobil saya pacu ke Kabupaten Kutai Kartanagara, Kota Samarinda wilayahnya unik. Nyempil dikempung kab. Kukar, Jadi kemanapun kita berkeliling mentoknya dikabupaten Kutai Kartanegara.

Jalan ring road sengaja kami pilih, desus semalam ngobrol dengan Satpam hotel, Konon di sana masih ada yang jualan jenis durian hutan. Benar saja baru lepas setengah jam, puluhan lapak durian sudah terlihat. Tak hanya durian beragam buah tropis asli Kalimantan dijajakan . Ada cempedak, rumbai, dan ini yang saya cari lay Karantungan dan lahung. Wah siang ini saya benar benar berpesta.

Lelaki jawa seperti saya pasti gagap melihat jenis jenis kerabat durian ini. Meski mirip jenis durian hutan ini bukan durian. Bahasa kerennya. Masih satu marga durio tapi beda spesies. Durian yang kita temui di jawa adalah durio zibethinus sedangkan lay adalah durio kutejensis, Karantungan adalah durio oxleyanus sedangkan si merah Lahung adalah durio dulciss.

Soal rasa cukup berbeda dengan durian. Mungkin seperti mangga dan Kweni bila dikomper perbedaan rasanya.

Sperti Lay, kerabat durian ini bentuknya paling mirip durian. Durinya sedikit tajam dengan bentuk lonjong dengan warna kulit kuning Golkar. Awalnya saya enggan mencicipi Buah Lay, bukan tak enak tapi dari kulitnya yang berbecak kecoklatan dan terbuka terlihat buah lay ini sudah tidak fresh lagi, mungkin sudah diperam lebih dari tiga hari.

“Bujur mas Lai itu paling enak dimakan setelah di peram 3 hari setelah petik. Kalau fresh mau sih bau langau.” Kata Bu Badriyah penjual lapak.

“Ini coba” kata ibu Badriyah setengah memaksa.

Daging durian Lay warnanya memang tak ada yang lawan. Sangat Menggoda dengan Daging kuning cerah. Rasanya manis agak berserat dengan aroma sedikit durian. Kelemahan Lay di setiap lajur daging durian pasti terdapat daging yang keras dan bertepung. Benar kata orang orang jenis Lay cocok buat penggemar durian yang tak kuat dengan bau durian yang menyengat.

“Enakan, coba ini Lahung,” kata dia tersenyum simpul.

Lahung memang terlihat lebih menantang, buahbya bulat sempurna dengan warna merah darah. Durinya tajam seperti bulu landak. Tak ada aroma durian hanya semerbak bau daun kering tercium. Susah payah bu Badriyah membuka buah ini, beberapa kali mecoba ia menyerah.

“Mas aja nih yang buka” kata dia.

“Waduh”, kata saya,

Ini dia durian yang sering saya curi pandang di Internet. Lahung konon punya rasa unik dan nakal. Konon dalam bahasa lokal, Lahung artinya perempuan nakal, waduh gawat juga tuh.

Alamak susah sekali membuka kulit Lahung. Sekuat tenaga saya Congkel tapi tetap saja tak merekah. Geram, saya cincang Lahung seperti memotong daging korban. Setelah 3 kali bacokan, Lahung pun terbelah dua. Begitu di buka Aroma Lem langsung menyengat hidung. Kuat sekali baunya mebuat saya hampir muntah. Daginngya tipis berwarna kuning membalut biji lahung yang warnanya kehitaman.

“Ayu coba, . Harganya 50 ribu loh, masa dah dibuka ndak dimakan”. kata bu Badriyah.

“Hmmmm wani ora yah, saya ragu mencoba lahung. Baunya saja saya sudah mual, apalagi makan buahnya. Tapi sudahlah ini pengalaman mahal toh tak pernah aku dengar orang mati gara gara makan Lahung.

“Sak dulit ae ra popo” kata saya dalam hati.

Daging tipis lahung yang lembek berair saya colek. Dengan menahan nafas saya beranikan diri mencoba rasa Lahung. Rasanya manis sangat manis dan krimi cukup enak tapi begitu nafas dibuka aroma lem langsung menyergap. Saya sampai terbatuk batuk melawan kuatnya aroma Lahung. Edan ini edan baru sedulit saja saya terduyung K.O dengan aroma Lem buah Lahung. Tak hanya menghajar indera penciuman, aroma Lem juga menghajar sensor otak membuat saya kleyengan. Ampun saya menyerah. Cukup terimakasih sambil beranjak pergi mencari angin segar. Ini durio terberat yang pernah saya makan.

Bu Badriyah hanya tertawa melihat saya terbirit birit lari dari lapaknya.

“Disini banyak yang suka loh, masa gitu aja KO”, kata dia tertawa.

“Ini ada penawarnya, cobain ini kata dia sambil membawa buah sekepalan tangan mirip rambutan. “Ini Karantungan” Kata bu Badriyah.

Karantungan bentuknya unik warnanya hijau cerah dengan duri panjang mirip rambutan. Karamel lengket manis tanpa pait rasanya sangat ringan memanjakan lidah. Warna daging pun cantik, kuning muda. Meski tipis saya sangat suka durio oxleyanus ini.

“Lagi bu, enak ini” kata saya.

3 buah Karantungan habis saya lahap, nyaman sekali saya menikmati Durio yang sering disebut durian daun ini. Karantungan seperti penghapus lara dihajar Buah Lahung. Untuk sesaat saya bisa duduk Lega terlepas dari aroma lahung.

Sungguh pengalaman yang unik menikmati keragaman Durio di Kalimantan Timur. Indonesia memang kaya ragam durio dengan variasi rasa yang eksotis, rasa yang menunggu anda jelajahi. Kapan yah saya bisa kembali kesini.

“Ugghhttt”!!!! sendawa membubarkan angan saya. Seperti bangkit dari kubur, aroma lem Lahung kembali menghajar.

“Ampun Ampun Nakal sekali nih perempuan eh Durian !!!” kata saya sambil berlari ke mobil mencari sebotol Air.