Di Aceh "Love Is Better than Durian"

oleh Sigit Purwanto

Kopi pagi hari membuat saya galau, bikin rindu menyeruput kopi hitam kedai -kedai di Aceh. Kopi sama sama hitam tapi kalau kopi di Aceh entah kenapa lebih gurih dan legit. Apalagi kalau sudah terjebak seminggu di kedai kopi di Aceh pulang ke Jakarta kopi hitam sachet ku jadi hambar. Mak..! kangen Aceh aku teryata.

Sigit Purwanto memotret pantai dan pulau Aceh dari gardu pandang

Banda Aceh, ujung Paling Barat Indonesia. Setiap duduk di pesawat anganku selalu ditarik ke tahun 2008. Tahun itu aku Jurnalis muda Unyu unyu, untuk pertama kali naik pesawat dan tujuan ku adalah Banda Aceh. Culun kali sedikit norak memalukan tingkahku, gagal sebenarnya sih ditolak minta foto dengan pramugari foto dengan posternya pun menjadi kenangan pertama kali naik pesawat. Setelah tahun 2008 Bumi Aceh sepertinya jatuh cinta denganku. Mungkin setiap 3 tahun sekali aku diundang ke bumi Serambi Mekkah. Menyelam di pulau Sabang, ngopi di dinginnya Pasar Takengon. Dikejar Gajah di Calang hingga hampir kesemsem sama geulisnya neng Aceh pernah saya Alami.

Awal Januari 2019 saya kembali ke Aceh dig dag ndak sabar mengulang kenangan indah, iya kecuali yang terakhir wis ra zamani.hehhe. masih dengan pesawat yang sama bedanya pramugarinya sudah memakai Jilbab tapi maksa , pasnya dijilbabi. Ndak anggun malah geli dengan jilbab minimalis dengan lekuk tubuh masih di jembreng.

Kota masih seperti dulu tak banyak perubahan, harum rempah daun Temurui sudah nempel di hidung padahal warung makan ayam tangkap masih jauh jalan. Mas Sony pria Gempal dengan lengan besar kokoh khas Sniper menjemput saya di bandara. Beliau adalah Sniper beneran punya trofi segudang di kejuaraan menembak internasional selain penembak jitu beliau penggemar durian yang punya cita cita tinggi, memodernisasi Aceh dengan durian unggulan. Di Jakarta saya pernah diajarkan menembak oleh beliau. Kalau anda suka berburu ngobrol 2 hari 3 malam pasti nyambung dengan beliau. Apalagi kalau nanya jenis senapan, baru lihat aja dia sudah tahu jenisnya, namanya kalibernya hingga ornamen palsu yang terkadang nempel di pucuk senapan.

Lagi lagi saya bertemu Pramugari bukan di pesawat tapi di rumah makan. Pahanya jenjang empuk. Ada harum daun temurui dan cabe hijau goreng langsung menempel di hidung. Rempah Aceh memang Unik selalu memberi sensasi baru dilidah dan pahanya itu sungguh bukan hanya indah dipandang tapi eunak empuk memanjakan lidah. Tak cukup satu paha, dada hingga kepala pun cepat saya tangkap dan lahap..sedep bro.. Pantas saja Rumah Makan Makan Ayam Tangkap Pramugari ini selalu ramai . Sepagi ini puluhan orang sudah datang seakan menemani saya menyantap Ayam Tangkap Pramugari.

Dari kota Banda mobil dipacu ke Kota Calang. Membelah pesisir dan gunung yang berderet indah memanjakan mata. Hujan tadi pagi menyisakan kabut yang menjalar menguntai di pucuk bukit. Semerbak harum durian mulai menusuk nusuk pintu mobil begitu mobil mulai menanjak gunung Geurutee. Tak tahan rasanya ingin turun mencoba durian yang dijajakan di setiap belokan.

“Nanti saja di Calang, disini sudah selesai musimnya. Di Calang Hingga Meulaboh lagi Musim” kata Mas Sony yang pandai menandai gelagat saya yang mulai kesurupan duren.

Bukit, Pokok durian dan Pantai adalah simfoni di Aceh. Berjajar rapi indah saling melengkapi sayang musim durian sudah usai jadi kurang Jreng tak ada “Reffnya” tapi singgah sebentar ngupi di digunung Geurutee menikmati pantai dan pulau sudah cukup meredam deru harum durian yang tadi mendentum.

Jalar lebar mirip di USA (katanya) yang memanjakan pengendara dan sapi mulai mengelupas ketika saya memasuki kota Calang. Nanti kalau anda ke Aceh pasti paham kenapa sapi lebih memiliki jalan di banding pengendara mobil. 10 km jalan berundak tak nyaman yang sedang diperbaiki terlewati. Segar Angin pantai Calang menyambut saya. Beberapa nyiur berdiri sendiri di pantai ia menyimpan kisah sedih keluarganya yang hilang di hempas Tsunami.

Dipertigan sebelum kota Calang di daerah Pangah kami berhenti . Pria hitam berwajah India menyambut kami, mukanya menyeramkan namun santun menawarkan durian. Mas Sony sudah dikenal di pelapak durian . Begitu dia muncul durian terbaik pagi ini langsung ditawarkan.

Daging durian putih bersemu kuning menjadi opening kami menikmati durian Aceh. Tanpa komando dan siap salah saya langsung menjorokan tangan menengadah lalu cekatan mengambil durian. Setelah di foto sekedarnya satu pongge durian saya lahap. Dagingnya tebal, wangi dengan tekstur lembut melebihi mentega malah cenderung cair lengket seperti Madu. Tak payah menikmati durian Aceh. Daging tak bertepung lembut mengolah lidah menata manis dan pahit yang pas. Tak usah banyak gaya semua sudah dipandu indah di mulut saya tinggal diam saja pasrah menikmatinya.

Sebelah durian Aceh berdaging putih bersemu kuning di telapak tangan

Durian di harganya masih sangat terjangkau. Paling mahal 35 ribu rupiah. Sebagai jalur utama perlintasan Banda Aceh - Medan banyak pelancong yang singgah di sini. Menghela nafas menikmati durian lalu laju lagi. Seperti pria berbaju putih itu. Pak Anwar, pedagang keliling dari medan yang setiap minggu berkelana Medan dan Banda Aceh . diatas bangku plastik dia seperti raja sejam dengan ajudan pedagang yang memegang durian.

“Ayu bang coba ini eunak ini masih alami tanpa kimia . Daerah sini enak Bang duriannya kalau salah lintas pasti makan dan bawa buat oleh oleh ke Medan tuh 5 keranjang sudah siap saya muat ke mobil” kata beliau dengan mulut dan tangan disumpal daging durian tak berhenti.

Rata rata durian dari Calang hingga Meulaboh teksturnya kremi dengan warna putih hingga kuning redup. Di jalan di sebelum masuk kota Meulaboh pun kami masih menyisir durian. Teksturnya sama hanya berbeda tipis kadar manis dan pahitnya. Jejak rasa pahit dan rasa unik seperti rasa Alpukat juga saya temui. Kualitas durian Aceh Istimewa padahal saya masih menyisir di pinggir jalan belum meneror para kolektor durian Unggulan Aceh.

Lapak durian di pinggir jalan Calang dengan durian berjajar di tanah

Di pantai Meulaboh kami mengakhiri hunting durian hari ini. Kelapa hijau besar meneduhkan perut yang mulai bergejolak karena kebanyakan durian. Pemilik warung berdarah Arab begitu santun menyambut Mas Sony. Mas Sony pun santun mencium tangan Beliau.

“Saya dulu tugas disini sebelum Tsunami markas kami ada di pojok sana pinggir pantai, dulu kalau ndak tugas sering ke warung ini, ngapel” kata mas Sony setengah berbisik

“Ngapel opo” kat saya

“Ngapel Anake yo, saiki wis tak boyong ke Kelapa dua” kata Mas Sony

Walah iku Mertuamu toh kata saya terseyum

“Iyo kata mas sony mengiyakan

Saya pun tersenyum sendiri. Sore itu angin berhembus dari laut yang tak terlihat pantainya. Sejuk menarik kelopak rebah Mengantuk.

“Paha pramugari yang di bungkus masih ada loh masih mau, kata mas Sony

“ Ah ndak mas bosen aku mau makan ikan aee”..kata saya sambil memeluk dingin kelapa hijau

Di Ujung Pantai Meulaboh saya mengakhiri perjalanan. Pantai Sepi seperti masih terluka namun hangat kehidupan yang damai mulai bertumbuh. Sambil menyeruput manisnya air kelapa saya bergumam dalam hati.

“ Love Is Better than durian eh war, yo ora mas Sony “?..

Mas sony hanya diam. Hehe #akuorawanitakonjane

Pagi ini